JejakPedia.com : Kalah Oleh Media Sosial, Pengunjung Media Daring Terus Menurun

 Meski pengguna internet meningkat  pengakses media online dari tahun ke tahun justru menu JejakPedia.com :  Kalah oleh Media Sosial, Pengunjung Media Online Terus Menurun
PENGUNJUNG Media Online (Situs Warta/Media Pers) terus menurun dari tahun ke tahun. Meski pengguna internet meningkat  pengakses media online dari tahun ke tahun justru menurun akibat mewabahnya media sosial.

"Masyarakat lebih mudah mengakses dan menerima keterangan dari media sosial ketimbang media daring," kata Chief of Collaboration and Engagement kumparan.com, Yusuf Arifin, dikutip Mеtrоtvnеwѕ.

Ia memprediksi jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 150 juta orang. Dari angka tersebut, ia menyayangkan jumlah pengakses media online dari tahun ke tahun justru menurun.

Dalam diskusi 'Media Sosial saat Manusia dan Algoritma Mencari Kebenaran' di Jakarta Pusat, Sabtu (14/1/2017), eks wartawan BBC di Inggris itu menjelaskan, fenomena tersebut dilatarbelakangi oleh mewabahnya media sosial sehingga masyarakat lebih mudah mengakses dan menerima keterangan dari media sosial ketimbang media daring.

Ia menegaskan, kini fungsi jurnalis (wartawan) hilang saat masyarakat menerima mentah-mentah informasi melalui media sosial. Padahal, jurnalis serupa dengan broker atau perantara untuk mengatakan keterangan tentu dengan kaidah jurnalistik.

Yang terjadi kini, banyak masyarakat yg menyebarkan berita dan keterangan melalui media sosial tanpa melihat logika dan kaidah jurnalistik. Demikian Yusuf Arifin.

INFORMASI tentang data pengakses media massa online atau situs berita yg disampaikan Yusuf Arifin di atas selaras dengan keterangan sebelumnya. Rupanya, media massa di Indonesia menghadapi masa depan suram, baik cetak maupun online.

Setelah media cetak terus berguguran digerus media daring, ternyata masa depan media daring juga suram. Pasalnya, situs berita akan ditinggalkan pembaca yg beralih ke media sosial dan aplikasi.

Di posting sebelumnya, memang data memperlihatkan demikian: media yg digunakan bagi mencari berita didominasi media sial (81%). Koran online "cuma" 47% (Lihat Hasil Survei).

Aрlіkаѕі mоbіlе dаn mеdіа ѕоѕіаl mulаі mеngаmbіl аlіh реrаn ѕіtuѕ bеrіtа ѕеbаgаі ѕumbеr реntіng іnfоrmаѕі. Orаng mulаі bеrаlіh kе mеdіа ѕоѕіаl bаgі mеnеmukаn kеtеrаngаn tеrbаru. Tеrlеbіh, іnfоrmаѕі dі mеdіа ѕоѕіаl tіdаk jаrаng "lеbіh аktuаl" dаn оrіѕіnаl, bаhkаn lеbіh dеtаіl, kеtіmbаng hаѕіl lірutаn wаrtаwаn ѕіtuѕ bеrіtа.

SAAT ini, kita diramaikan dengan isu berita palsu (Hoax), sampai-sampai Dewan Pers akan 9 Februai 2017 memasang barcode bagi media pers atau situs berita resmi yang terdaftar dan terverifikasi.

Dewan Pers hendak menyampaikan, keterangan yg benar hanya ada di situs berita terverifikasi dengan ciri adanya barcode tersebut.

Barcode tidak mulai efektif membendung hoax pun meningkatkan jumlah pengunjung media daring (situs berita). Pasalnya, fakta memperlihatkan, pemberitaan media mainstream di Indonesia ketika ini tak berimbang yg melahirkan banyaknya hoax dan "info tandingan" di media sosial.

Ketika terjadi bentrok massa GMBI dan FPI di Polda Jabar, misalnya, media mainstream hanya menyampaikan "massa bentrok", tanpa menyebutkan penyebab atau pemicunya.

Media arus penting tampak memihak salah satu kelompok sehingga akar masalahnya tidak dijelaskan. Di sinilah media sosial mengambil alih peran dengan bukti kuat foto dan video. Ini pula kekuatan "citizen journalism" di media sosial.

Selain tidak berimbang, berita media online atau situs berita resmi juga sering menipu pembaca dengan judul-judul berita umpan klik (clickbait). Judul umpan klik ini bikin pengguna internet muak terhadap media online.

Belum lagi situs-situs berita kadang menyajikan naskah berita secara bersambung, dibagi dalam beberapa halaman, sehingga menyedot kuota internet pembaca.

Jadi, kesimpulannya, pengunjung media online menurun disebabkan info di media sosial lebih cepat, beragam, detail, meskipun berisiko hoax. Selain itu, karena pemberitaan media-media besar sering tak berimbang akibat dimiliki dan dikendalikan kelompok pro-penguasa dan kepentingan politik.

Paling tidak, menurunnya pengunjung media daring mengindikasikan ada yg tidak beres dengan sajian berita media online. Wasalam. (www.jejakpedia.com).*