JejakPedia.com : Dewan Pers Tertibkan Media Daring Dengan Sertifikasi Dan Logo Khusus

Dewan Pers Tertibkan Media Online dengan Sertifikasi dan Logo Khusus JejakPedia.com :  Dewan Pers Tertibkan Media Online dengan Sertifikasi dan Logo Khusus

DEWAN Pers akan memverifikasi segala media, termasuk media daring atau situs berita akan tahun depan (2017). Nantinya, segala media online yg lolos verifikasi Dewan Pers akan ditetapkan dan diumumkan sebagai media resmi atau media legal.

Menurut Ketua Dewan Pers Indonesia, Yosep Adi Prasetyo, segala anggota media yg terverifikasi mulai memiliki logo khusus dan label sertifikasi dari dewan pers.

"Ini dilakukan agar masyarakat bisa menilai mana media yang jelas dan tak, termasuk wartawannya,” kata Yosep dalam sarasehan “Tantangan Pers Daerah di Era Digitalisasi” di Manado, Kamis (3/11/2016), seperti dikutip Bоlmut Pоѕ.

Rencananya, pada 9 Februari 2017, bertepatan dengan Hari Pers Nasional di Ambon, Dewan Pers akan mengumumkan segala media yg akan memakai logo.

"Logo itu menyatakan bahwa media tersebut telah terverifikasi oleh dewan pers, sehingga memudahkan pemerintah dan masyarakat melihat mana media yang benar dan tak,” tegasnya.

Media online (situs berita), termasuk blog yang "disulap" menjadi situs berita, memang tumbuh pesat. Dikutip Tеmро, Dewan Pers mencatat dari sebanyak 43.300 media online atau media siber, cuma 211 perusahaan yang dikategorikan perusahaan pers profesional.

Sisanya adalah media partisan dan media abal-abal. (Baca: Jenis-Jenis Media menurut Dewan Pers: Profesional, Partisan, Abal-Abal).

Kita, masyarakat pembaca dan pengguna internet, wajib mendukuing upaya Dewan Pers menertibkan media-media online atau situs-situs berita dengan cara verifikasi dan sertifikasi tersebut.

Dengan adanya sertifikasi dan logo khusus, kita dengan gampang membedakan mana media yang bisa dipercaya dan bertanggungjawab atas pemberitaannya, dan mana media partisan dan abal-abal, bahkan media propaganda, yang layak "dicuekin" alias gak usah dibaca.

Media bersertifikasi dan berlogo khusus dipastikan yaitu media resmi (legal), yakni berbadan hukum, alamat kantor redaksi jelas, dan tim redaksi yg jelas pula, akan pemimpin redaksi hingga reporter dan koresponden.

Dengan jelasnya perbedaan antara media resmi dan media abal-abal, maka netizen atau pegiat media sosial pun akan dapat memilih dan memilah berita dari situs mana yg layak dishare atau dibagikan.

Media ilegal alias abal-abal, juga media partisan dan progapanda, biasanya tak berbadan hukum dan tidak jelas siapa pengelolanya. Media dengan pengelola "anonim" tersebut biasanya membuat berita "semaunya" tanpa mengindahkan disiplin verifikasi dan kode etik jurnalistik.

UU No. 40/1999 tentang Pers memang memberi kebebebasan  kepada setiap warga bagi menerbitkan media atau mendirikan lembaga pers, namun syaratnya harus berbadan hukum. Badan hukum inilah yang menjadi ciri utama sebuah media resmi.

Bаgаіmаnа dеngаn Sіtuѕ Fоrum?
Status hukum situs lembaga terkait dengan status lembaganya. Jika lembaga atau organisasinya telah resmi, maka otomatis situsnya pun resmi, karena situs atau website lembaga adalah "kantor maya" dan "humas online".

Jadi, situs lembaga, misalnya website ICMI Jabar atau PUI Jabar, tidak usah daftar dan tidak perlu verifikasi Dewan Pers karena sudah "integrated" dengan status hukum lembaga atau ormasnya.

Bаgаіmаnа dеngаn Blоg?
Blog adalah website pribadi, bukan web lembaga. Pengelolanya pun individu. Cara membedakan blog profesional dan abal-abal pun sangat mudah, yakni mengenali pemiliknya (biasanya ada di menu About atau Blogger Profile) dan kualitas posting atau konten blognya.

Namun, banyak bahkan mungkin kebanyakan blogger menyamarkan identitas aslinya. Hal itu tak menjadi masalah selama konten blognya positif, bermanfaat, dan tulisan atau postingnya mampu dipertanggungjawabkan.

Salah satu ciri konten blog yg baik adalah tulisan sendiri dan menyebutkan sumber jika sedang Copy Paste. Wasalam. (www.jejakpedia.com).*