Jangan Salah! Ini Tata Cara Taaruf Syari Dalam Islam Yang Benar

Jangan Salah! Ini Tata Cara Taaruf Syari Dalam Islam Yang Benar

Taaruf syari, Anda pasti pernah dengar istilah ini kan? Taaruf memang bukan hal asing lagi di Indonesia. Apalagi mengingat mayoritas penduduknya adalah muslim. Namun tahukah Anda apa yang dimaksud taaruf? Lalu bagaimana tata caranya?

Meski sudah seringkali terjadi di masyarakat, nyatanya masih banyak orang yang salah mengartikan taaruf. Bahkan ada pula yang menganggapnya pacaran islami. Hal tersebut tentu salah kaprah. Untuk itu, simak di bawah ini untuk lebih jelasnya.

Apa Itu Taaruf?

Secara bahasa, ta’aruf berasal dari kata ta’arafa–yata’arafu. Yang mana artinya adalah saling mengenal. Bukan hanya proses perkenalan antara laki-laki dan perempuan saja. Melainkan proses perkenalan yang dilakukan sebelum menuju jenjang pernikahan.

Pengertian lainnya, taaruf merupakan proses saling berkenalan yang dilakukan sebelum khitbah atau lamaran. Di mana ada tata caranya sendiri sesuai syariah Islam.

Taaruf ini berbeda dengan pacaran. Taaruf dilakukan supaya seseorang terhindar dari perbuatan zina. Sedangkan dalam Islam, pacaran adalah suatu hal yang dilarang sebab dapat menimbulkan zina. Keduanya jelas bertolak belakang.

Oleh sebab itu daripada pacaran, disarankan bagi laki-laki dan perempuan muslim agar bertaaruf. Terlebih sekarang ini taaruf bisa dilakukan secara online.

Ya, kini telah ada banyak wadah untuk taaruf online yang bisa kita temui. Salah satunya di https://syaria.id/taaruf yang akan menyertakan ustad pendamping untuk membimbing dan mengawasi proses taaruf bagi setiap penggunanya.

Tata Cara Taaruf yang Benar Sesuai Syariat

Dalam hal taaruf, pada dasarnya tidak ada cara atau ketentuan khusus. Yang terpenting ialah tidak melanggar aturan syariat maupun adat masyarakat. Namun guna mencegah agar tidak salah kaprah, sebaiknya ketahui tata cara umumnya berikut ini:

1.      Luruskan Niat

Sebelum taaruf, seseorang harus meluruskan niatnya dengan i’tikad baik. Yaitu menikah karena Allah. Bukan karena ingin koleksi kenalan, coba-coba, membuka peluang, memberi harapan palsu atau gelagat tidak serius lainnya. Apabila ada niat buruk di dalamnya, maka taaruf tidak boleh dijalankan.

2.      Perihal Interaksi

Sebelum terjadi akad nikah, status kedua calon pasangan masih menjadi orang lain. Itu artinya, tidak ada hubungan kemahraman sama sekali. Jadi ada batasan perihal interaksi antara keduanya.

Mereka dilarang untuk berduaan, saling bercengkerama dan sebagainya. Jika ingin bertukar informasi maka harus melalui seseorang sebagai perantara. Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadits:

“Janganlah kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (bukan mahram). Sebab setan adalah orang ketiganya.” (HR. Ahmad dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth).

3.      Bertukar Biodata

Dalam proses taaruf, masing-masing bisa saling mengenal dengan cara bertukar biodata tertulis. Untuk proses pertukaran itu pun harus ada pihak ketiga yang menjadi perantara. Sehingga meminimalisir adanya pertemuan.

Satu sama lain dapat mengetahui profil calon pasangannya dari biodata tersebut. Atau jika ada yang ingin ditanyakan, maka bisa melalui orang-orang terdekatnya yang mengenal pribadi calon pasangan.

4.      Nadzar Untuk Bertemu

Setelah permohonan taaruf diterima, maka bisa dilanjutkan dengan bernadzar. Yaitu dilakukan dengan cara datang ke rumah calon wanita dan menghadap ke orang tuanya langsung.

Dari al-Mughirah r.a menceritakan, “Suatu saat aku berada di sisi Nabi SAW, tiba-tiba datang seorang lelaki. Dia ingin menikahi wanita Anshar. Lantas Rosulullah bertanya padanya, “Apakah engkau sudah melihatnya?”. Jawabnya “Belum.”

Kemudian Rosul memerintahkan, “Lihatlah wanita itu supaya cinta kalian lebih langgeng.” (HR. Tarmidzi 1087, Ibnu Majah 1856 dan dihasankan al-Albani).

5.      Boleh Memberikan Hadiah

Hadiah sebelum pernikahan hanya boleh dimiliki calon pengantin wanita, bukan keluarganya. Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a, Rasulullah bersabda:

“Semua mahar, pemberian dan janji sebelum akad adalah kepunyaan sang calon wanita. Lain halnya dengan pemberian setelah akad nikah, itu milik orang yang diberi.” (HR. Abu Daud 2129)

Demikianlah tata cara taaruf syari yang benar sesuai aturan Islam. Sebelum melakukan taaruf, pastikan Anda mengetahuinya lebih dulu, ya.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama