Review The Tomorrow War

Di film bergenre action bercampur dengan Sci-Fi ini bercerita tentang Dan Forester sebagai peran utamanya. Kali ini Chriss Pratt berperan sebagai Dan Forester, mantan pasukan militer US serta kepala keluarga dari istri dan seorang anak perempuan bernama Muri Forester, menurut filmbor.com

Kehidupan Dan Forester awalnya nampak biasa-biasa saja. Hingga pada Desember 2022 muncul sekelompok pasukan bersenjata dari sebuah di tengah-tengah siaran langsung gelaran Piala Dunia. Mereka mengaku dari masa depan dan membutuhkan pertolongan dikarenakan masa depan umat manusia di 2051 terancam punah karena invasi dari alien.

Kemudian umat manusia di seluruh dunia bersatu mengirim pasukan terlatih guna mencegah punahnya umat manusia terjadi. Akan tetapi hanya sekian dari mereka (ke masa depan) kembali dengan selamat. Alhasil pemilihan pasukan tersebut dilakukan secara random kepada warga sipil.

Dan Forester yang kala itu bekerja sebagai guru Biologi terpilih menjadi salah satu volunter pasukan guna menyelamatkan umat manusia di masa depan dan ia pun harus meninggalkan keluarganya.

Berbekal pengalaman di medan perang, Dan memimpin sekelompok warga sipil ke masa depan berjibaku dengan kawanan alien (Whitespike) yang menyeramkan. Di momentum itu Dan bertemu dengan anaknya Muri yang telah dewasa, mereka kemudian bahu membahu untuk membinasakan kawanan alien itu untuk selama-lamanya.

Berita di televisi, cerita-cerita dari mereka yang berhasil selamat, semua sarat sense of urgency. Ketegangan. Perasaan bahwa kondisi dunia memang sedang di ujung tanduk. Lalu tibalah giliran protagonis kita, Dan Forester (Chris Pratt), mantan militer yang coba beralih jadi peneliti, dikirim ke medan perang. Dia terpaksa meninggalkan istrinya, Emmy (Betty Gilpin), serta sang puteri, Muri (Ryan Kiera Armstrong). 

Tentu berat bagi Dan. Bahkan ia sempat mencoba mangkir, dengan meminta bantuan ayahnya, James (J. K. Simmons dalam sisi paling badass-nya), veteran Perang Vietnam yang kini beralih jadi ekstrimis anti-pemerintah. Tapi renggangnya hubungan mereka, membatalkan niatan tersebut. Dan akhirnya berangkat, sambil mengusung motivasi paling murni yang bisa dimiliki jagoan film aksi: keluarga. Dan berperang di masa depan dan demi masa depan. Masa depan puterinya. Tidak ada tendensi heroisme, yang mana dimanfaatkan oleh naskah buatan Zach Dean, guna melahirkan momen-momen emosional.

Sesampainya di masa depan, pasukan Dan tidak punya waktu berleha-leha. Misi sudah menanti, juga para Whitespikes yang siap merenggut nyawa kapan saja. Saat itu, jelas pula bahwa Chris Pratt memang sempurna melakoni perannya. Pratt tampak meyakinkan, bukan saja sebagai action hero, juga figur pemimpin. Turut bersama Dan adalah dua karakter pendukung, Charlie (Sam Richardson) dan Dorian (Edwin Hodge).

Charlie murni berstatus comic relief, dan walau Richardson berusaha maksimal, humor di naskahnya terlalu kering untuk dapat memancing tawa. Sebaliknya, Dorian cukup menarik. Sosoknya tidak ramah dan intimidatif. Sudah tiga kali ia terjun berperang, sementara di lehernya, tergantung kalung berbahan gigi Whitespikes. Sekilas Dorian sama seperti karakter haus darah yang biasa kita temui di film-film serupa. Nyatanya ia berbeda. Meski dengan caranya sendiri, Dorian bersedia bekerja sebagai tim. Obsesinya pada pertempuran belum mengubur sisi kemanusiaannya. 

Kembali soal sense of urgency, kesan itu McKay munculkan di deretan aksinya, yang tersaji masif, intens, penuh kekacauan yang dikemas rapi, ditemani musik menggelegar gubahan Lorne Balfe, yang senantiasa mengingatkan penonton soal betapa berbahayanya tiap pertarungan. Bentuknya pun beragam, dari misi SAR (search and rescue) hingga memburu alien untuk ditangkap. Pun masing-masing mengandung beberapa variasi aksi, seperti saat McKay menjadikan baling-baling helikopter sebagai senjata ampuh selain senapan.

Meskipun hadir dalam jalinan kisah yang cukup sederhana, pengarahan yang diberikan McKay mampu menjadikan hubungan ayah dan anak antara kedua karakter tersebut yang kemudian berkembang menjadi kerjasama guna mengalahkan musuh mereka bersama tampil begitu manis dan menggugah. The Tomorrow War bahkan sebenarnya tampil dengan pengisahan yang lebih kuat ketika memilih untuk berfokus pada interaksi yang terjadi antara karakter-karakter manusianya.

Tentu, efek audio maupun visual akan pertarungan dengan para makhluk asing dari angkasa luar dapat dieksekusi secara lugas oleh McKay. Namun The Tomorrow War justru tampil lebih bersinar dalam tuturannya yang lebih humanis.